40 SOSOK Paling Berpengaruh dalam Hidupku (part 2)

5.  TRIA SETYA SAPTINI (First Friend @ School – Pahlawan Bakat dan Prestasiku)

Pertama kali aku bisa bersosialisasi dengan teman sebayaku, mungkin pada saat umurku 1 tahun. Teman pertama yang kudapat adalah anak tetanggaku (dempet rumah dengan rumahku), namanya Ana Susanti.

–PERTAMA BERTEMU–

Waktu terus berjalan hingga aku berumur 4 tahun, saat itu aku didaftarkan masuk TK Bina Ana Prasa, sekolah pertama sekaligus penentu masa depanku seterusnya. Namun karena kebijakan sekolah, aku ditolak masuk karena umurku belum genap 5 tahun. Barulah tahun depannya (1995) aku diterima di sekolah itu.

Hari pertama masuk, aku telat datang sekian menit dan saat itu semua murid sudah berbaris menirukan Bu Sumarni dan Bu Rodiyah memperagakan senam pagi yang dilanjutkan dengan tata cara masuk ruangan. Satu jam sesi peragaan selesai, kami semua masuk secara teratur dan diatur tempat duduknya. 1 meja ditempati sekitar 4-8 orang. Tepat di sampingku adalah sosok gadis yang sangat ceria dengan senyumnya yang lebar tanpa ada sedikitpun perasaan malu menampakkan giginya yang tinggal 2 di depan😀 .

–PERKENALAN–

Sesi perkenalan pun dimulai, kami saling berkenalan. Dan gadis yang di sampingku tadi bernama Tria Setya Saptini dan dipanggil “Tria”. Kala itu aku adalah seorang yang penakut dan sangat pendiam, tidak sepertinya yang selalu sumingrah (ceria) dengan canda tawa. Dan hari pun berganti bulan, aku semakin akrab dengannya dan tidak pernah mau dipisahkan tempat duduk dengannya. Kalau dipisah, salah satu di antara kami pasti menangis. Terciptalah suatu hubungan erat yang dinamakan “PERSAHABATAN”. Permainan ayunan, plorotan (entahlah bahasa Indonesia nya apa), sesi jalan – jalan ke air panas, makan bareng, dan semuanya kami lakukan bersama – sama. Sikap penakut dan pendiamku pun perlahan namun belum sepenuhnya, memudar karena bersamannya. Aku sudah tidak terlalu malu jika diminta guru ke depan kelas untuk memimpin doa, mengerjakan soal, dll.

–BAKAT yang MULAI MUNCUL karenanya–

Keberanian yang mulai muncul itu aku anggap sebagai “Cikal bakal talenta yang kumiliki”. Lomba pertama yang kujalani, yaitu di bidang tarik suara, kulalui bersamanya di RKPD Mojokerto (salah satu radio di kawasan Mojokerto jaman dahulu kalau tidak salah J ). Lomba kedua bersamanya adalah mewarnai, juga di kabupaten Mojokerto. Lomba ketiga adalah sandiwara, dimana saat itu aku berperan sebagai seorang guru yang baik, menengahi pertengkaran antara Tria dan Aditya Wihandoko “Adit” ( lihat sosok ke-7). Aku dipilih menjadi guru, karena saat itu aku yang paling tinggi di antara 3 aktor lainnya (Tria, Dian Iswahyuni “Dian”, dan Adit).

KERENGGANGAN berujung BANYAK TEMAN

Masa TK pun berakhir seiring dengan diterimanya aku di SDN Claket 1 dan bertemu dengan teman – teman yang lebih banyak lagi. Aku masih tak ingin dipisahkan dari Tria sehingga kami pun duduk sebangku. Namun, guru kelas 1 sekaligus kelas 2 (Bu Marminingsih “Marmi”) ku lebih tegas sehingga saat kelas 2 aku tidak bisa menolak untuk dipindah dengan teman lainnya. Kejadian pindah tempat duduk itu dilakukan Bu Marmi karena suasana kelas yang sangat gaduh akibat ulah beberapa cowok “keren” saat itu dengan sebutan 3 serangkainya (Widi, Hadi, Handoko). Sejak insiden pindah tempat duduk, kedekatan ku dengan Tria sedikit demi sedikit merenggang, aku pun harus belajar lepas darinya dan beradaptasi dengan teman sebangku ku yang sering berganti. Lebih singkatnya aku saat itu sudah lepas dari ketergantunganku untuk dekat hanya 1 teman, yaitu Tria.

–TANGISAN awal PERSAINGAN dengannya—

Rapor pertama yang kuterima membuatku merasa paling bodoh. Aku menangis tersedu – sedu saat ibuku bilang “Kamu rangking 1 Nak”. Aku kira aku akan dimarahi habis – habisan di rumah, apalagi setelah kutanya teman – temanku termasuk Tria, rangking mereka lebih tinggi dariku. Tria mendapat rangking 2, yang lain ada yang sampai rangkingnya 40. Aku semakin menangis, bukan karena bahagia, tapi merasa paling bodoh di kelas karena dapat rangking 1. Secara, dalam pikiranku 1 adalah bilangan terkecil, jadinya aku berpikir rangking 1 itu adalah rangking terjelek di kelas.😀 . Sampai di rumah ibuku pun menjelaskan kebenarannya, sejak saat itu baik aku dan Tria sama – sama bersaing menjadi yang terbaik. Apalagi dengan nasihat orang tua kami masing – masing, ibuku bilang “rangking 1 harus dipertahankan lho Nak, ngga boleh turun”, sedangkan ibunya Tria “nanti harus bisa ngalahkan Ika lho ya”.  Namun, persainganku dengannya hanya sampai kelas 3 SD, entah mungkin karena “pressure” dari cowok-cowok “keren” yang nakal, akhirnya Tria tidak memiliki semangat kompetisi seperti dulu saat TK ataupun kelas 1, 2. Prestasinya mulai redup. Alhasil aku memiliki “competitor” lainnya yang silih berganti J

–KEBERSAMAAN awal CITA-CITA dan PRESTASI–

Redup dari prestasi akademik, kami menjajali prestasi lainnya. Kelas 3 kami disatukan dalam grup Tari. Jika sebelumnya cita – cita ku menjadi seorang insinyur, maka setelah pertama kali aku menari, cita – citaku berubah menjadi seorang “PENARI”. Sukses menjadi penari dan tampil dalam berbagai pentas di desaku (Desa Cembor), kami berdua didaulat mewakili sekolah dalam perlombaan tari modern. Dan inilah kebersamaan yang membuatku memegang PIAGAM UNTUK PERTAMA KALINYA, walaupun waktu itu piagam untuk juara harapan 2 dan kami terima saat kami duduk di bangku kelas 3. Kebersamaan dalam tari itu berlanjut dan kami didaulat mewakili sekolah dalam 2 lomba sekaligus, yaitu Senam Kesehatan Jasmani dan Tari Modern di SMPK Santo Yusuf. Alhasil, PIALA PERTAMA JUARA PERTAMA kategori LOMBA TARI MODERN pun bisa kupegang saat aku duduk di bangku kelas 5. J

–AKHIR KEBERSAMAAN—

Sejak kelas V, mungkin karena pergaulan, tekanan, dan tantangan, kami pun tidak lagi bersama. Apalagi sejak SMP, kelas selalu beda. Aku sibuk dengan duniaku, dia juga. Terakhir aku bertemu dengannya adalah Idul Fitri 2012 kemarin, dia sudah membawa seorang putra yang sangat tampan dan “CERIA” sepertinya J . Mungkin inilah bentuk terima kasihku padanya, yang kuabadikan dalam sebuah tulisan. Berharap suatu saat bisa terbaca olehnya J. Terima kasih telah membuatku mengenal persahabatan, persaingan, cita – cita, talenta, dan gelar juara.

6.  DIAN ISWAHYUNI (PAHLAWAN PERCAYA DIRI-ku)

178994_223527687750788_1000807757_nPanggilannya “Dian”. Namun aku memanggilnya “Mbak Dian”. Masih ingat ketika di Sosok ke-5 (Tria Setya Saptini), aku menemukan competitor baruku. Ya, dialah Dian Iswahyuni, si pemberani versi guru – guruku, termasuk kepala sekolahku. Hampir di setiap pembagian rapor sejak kelas 3-6, ia selalu menduduki 1 rangking di bawahku. Bahkan, saat kelas 3 semester kedua (kalau tidak salah), saking bingungnya, guruku sampai memberikan rangking 1,5 pada kami. Karena kami sebenarnya sama – sama juara kelas J . Itulah RANGKING TERBURUK-ku di SD.

–KOMPETISI awal PERCAYA DIRI–

Semakin banyak lomba – lomba yang kuikuti bukan bersama Tria, namun bersama Dian. Persaingan di kelas kami menjadikan kami berdua diseleksi untuk menjadi wakil sekolah dalam kompetisi mata pelajaran tingkat kecamatan. Mulai dari lomba individu sampai berkelompok. Di kategori individu, bersamanya aku menjalani lomba tingkat kabupaten untuk pertama kalinya di Dinas Kabupaten Mojokerto, yaitu aku di bidang Matematika, sedangkan dia bidang Sastra Bahasa Indonesia. Tidak berhasil mewakili Kabupaten Mojokerto di tingkat Provinsi tidak menghalangi kami untuk kembali berprestasi.

Sesaat setelah kami gagal, kami dipersatukan kembali dalam kompetisi berkelompok mewakili Kecamatan Pacet untuk Lomba Cerdas Cermat. Tentu saja melalui seleksi yang sangat ketat, karena melibatkan juara 1,2,3 dari masing – masing mata pelajaran yang dikompetisikan di kecamatan sebelumnya. Persatuan kelompok pun dilakukan secara random dan bergantian sampai menemukan komposisi kelompok yang paling pas (hanya 3 orang + 1 orang cadangan). Ditemukanlah aku, Dian, Zainal Arifin, dan Regina Bestrya (cadangan). Inilah awal aku bisa berbicara di depan orang banyak.

Sebelumnya, walau sudah bergaul dengan Tria dan menjadi sedikit ceria, aku masih dijuluki “si pendiam dan si licik” oleh guru kelas 3 –  6 ku dan selalu dibandingkan dengan Dian yang pemberani. Aku dibilang si licik salah satunya karena aku selalu takut mengacungkan tangan duluan untuk menjawab pertanyaan. Beda dengan Dian yang selalu berani mengemukakan pendapat / jawaban. Mungkin, itulah faktor mengapa selama ini aku tidak pernah bisa menjuarai lomba yang ada sesi “cepat tepat jawab secara lisan”. Dan kata – kata guruku kelas 6 yang selalu membuat ku semangatku terbakar adalah “Kamu kalau masih licik, bisa saja kalah dari Dian sewaktu – waktu dan susah menang lomba walaupun kamu lebih pinter”. Itu beliau dikatakan beliau sesaat setelah Dian terpilih menjadi juru bicara tim cerdas cermat.

Lepas dari persaingan di SD dengan Dian, dan lepas dari seragam Putih –Merah berdasi, akupun lepas dari julukan “si pendiam dan si licik”. Bagaimana bisa? Bisa, karena aku merasa seorang Ika yang diberi kesempatan merubah image dari NOL. MOS SMPN 1 Trawas (yang lumayan membuat shock karena sistem nya yang mungkin “killer” karena MOS pertama sepanjang hidup di sekolah), membuatku berani berbicara di depan orang banyak, mengemukakan pendapat, dan mengacungkan tangan lebih dahulu dari orang lain tanpa takut aku salah “jawab”.

Darinya : percaya diri akan mengeluarkan diri dari belenggu prestasi🙂

7. Alm. ADITYA WIHANDOKO (FIRST LOVE – SECOND BOYFRIEND)

Aditya Wihandoko, mempunyai 2 nama panggilan “Adit” (panggilan jaman SMK yang kutahu) dan “Handoko” (panggilan pertamaku padanya) cowok kelahiran 18 Oktober 1990 dan berzodiak Libra ini merubahku dari seorang gadis kecil yang polos menjadi seorang gadis remaja yang memiliki CINTA dalam hatinya. Alm. Adit adalah pribadi yang aku yakin tidak hanya tampan hatinya, namun juga pribadinya. Terbukti dengan banyak nya orang – orang yang masih senantiasa mengenangnya dalam doa.

–PERTEMUAN dan PERKENALAN dengan CINTA PERTAMA—

Masih ingat kisah perkenalanku dengan Tria di sosok ke-5 ? Aku mengatakan bahwa dia duduk di bangku (sampingku), nah entah di samping, depan, atau dimana, yang jelas aku melihat satu lagi orang yang terdekat duduknya denganku. Cowok “terganteng” yang pernah kulihat selama kurang lebih 5 tahun hidupku. Ya, namanya Handoko. Yah, walaupun masih 5 tahun, tapi wajar kalau aku sudah tahu mana yang cantik atau ganteng😀 (anak bayi aja udah tahu, wkwkwkwk) . Hah, aku bahkan tidak tahu bahwa pada akhirnya, si cowok ganteng itu yang jadi CINTA PERTAMA ku.

–PASANGAN PERTAMA DALAM HIDUP–

Allah memberikan anugerah Nya yang tiada tara ketika membuatku dan beberapa temanku menonjol dari yang lain, laksana emas berkilau di tengah perak dan perunggu. Itu pula yang membuat guru ku memasangkanku dengan Handoko pada acara karnaval. Yak, itulah acara pertama yang memasangkanku dengan laki – laki dan Handoko adalah pasangan pertamaku :D . Saat itu aku juga belum sadar bahwa dia juga yang akhirnya menjadi PASANGAN HATI PERTAMA ku. Memasuki SD, mungkin karena pergaulan dengan cowok keren bin nakal lainnya, Handoko bukan lagi seorang yang manis. Yah wajarlah, dia masih kecil waktu itu, masih mencari jati dirinya. Dia menjadi pribadi yang nakal dan pembuat onar di kelas. Tapi jutru itu lah yang membuatku kembali duduk berdampingan di “bangku paling depan, nomor dua dari kanan di kelas”.  Maka sekali lagi, dia adalah PASANGAN SEBANGKU PERTAMA (kategori cowok) dipasangkan denganku di bangku yang berisi hanya 2 orang (kalau TK kan bisa 4-8 orang).

–SIKSA dan BENCI—engan laki – laki dan Handoko adalah pasangan pertamaku😀 . Saat itu aku juga belum sadar bahwa dia juga yang akhirnya menjadi PASANGAN HATI PERTAMA ku. Memasuki SD, mungkin karena pergaulan dengan cowok keren bin nakal lainnya, Handoko bukan lagi seorang yang manis. Yah wajarlah, dia masih kecil waktu itu, masih mencari jati dirinya. Dia menjadi pribadi yang nakal dan pembuat onar di kelas. Tapi jutru itu lah yang membuatku kembali duduk berdampingan di “bangku paling depan, nomor dua dari kanan di kelas”.  Maka sekali lagi, dia adalah PASANGAN SEBANGKU PERTAMA (kategori cowok) dipasangkan denganku di bangku yang berisi hanya 2 orang (kalau TK kan bisa 4-8 orang).

Bergaul dengan cowok yang nakal, dia menjadi begitu juga. Entah kenapa aku menjadi sasaran utamanya. Mungkin karena cewek pertama yang sebangku (berdua) dengannya adalah aku. Dulu aku menyebutnya dalam hati sebagai cowok yang super nakal, killer, dan jahil. Alhamdulillah, sejahil apapun, dia belum pernah sekalipun menyentuhku dengan tangannya untuk menjahiliku apalagi memukulku.

Herannya, walaupun dia jahil, kalau ada PR, ulangan, atau tugas, dia pasti mendekat padaku, alias nyari contekan. Tapi ya entah karena takut atau apa, aku ya tanpa masalah memberikan sebagian jawabanku padanya. PR nya juga sering kukerjakan tanpa aku minta balasan apapun.

–SUKA dan CINTA—

Sederet rangkaian kejahilan yang menyiksa fisik dan mental kulalui hampir 4 tahun lamanya. Benci? PASTI, aku sangat MEMBENCINYA sampai aku tidak sadar bahwa rasa itu yang membuatku JATUH HATI PADANYA😀 . Dari yang awalnya hanya suka dengan “kegantengannya” sampai aku tak tahu kapan tepatnya aku cinta pada semua tingkah lakunya.

Kelas 3, dia sekali lagi menjadi yang cowok pertama di sekolah yang mengatakan bahwa “AKU CANTIK dengan rambut panjang terurai”. Itulah pertama kali raut mukaku menjadi merah oleh seorang pria😀 . Tapi sesaat setelah itu, dia kembali menjahiliku sehingga aku tidak lagi memikirkan ucapannya yang tanpa ia tahu menjadi sejarah bagiku.

Kelas 5, ketika SDN Claket 1 dan SDN Claket 2 dicampur karena kekurangan guru kelas 5, bahkan aku tak ingat kenapa dia merubah sikapnya padaku. Mungkin karena saat itu ada sosok laki – laki lain yang sangat baik padaku dan mendekatiku (berawal dari ejekan dari teman – temanku karena kami sama – sama juara kelas, aku di SDN Claket 1 dan dia di SDN Claket 2).

Waktu itu tempai duduk kami selalu bergeser dengan rumus tertentu yang ditentukan oleh guru kelas. Nah, tanpa sengaja dan mungkin bukan kebetulan, Handoko duduk tepat dibelakangku. Itulah saat dimana mata kami bertemu dan aku tidak lagi melihatnya hanya membenciku.  Singkat cerita, dia menyisipkan sepucuk kertas di tas ku. Sebelum meneruskan, aku ingin ketawa terlebih dahulu, hahahahahaha, ulah anak kecil jaman dulu yang masih childish. Isi suratnya kira – kira seperti ini “Aku mencintaimu, kamu pilih dia atau aku?” Hahahahahahaha… Saat aku merasa pikiranku terganggu oleh surat itu, saat itu juga aku merasa aku JATUH CINTA untuk PERTAMA KALINYA. Dan, yang namanya masih SD, pasti lah wajar ga berani yang namanya pacaran :D . Al hasil, kubiarkan surat itu berlalu tanpa balasan.
à “Apa siiihhhh ???? !!!!! Ngga banget kecil – kecil udah jatuh cinta!!!” Mungkin itu yang kupikirkan dulu ataupun sekarang (kadang). Tapi ya it’s real, dan itu terjadi secara alami.u, kamu pilih dia atau aku?” Hahahahahahaha… Saat aku merasa pikiranku terganggu oleh surat itu, saat itu juga aku merasa aku JATUH CINTA untuk PERTAMA KALINYA. Dan, yang namanya masih SD, pasti lah wajar ga berani yang namanya pacaran😀 . Al hasil, kubiarkan surat itu berlalu tanpa balasan.

Berpisah di SMP, membuatku semakin sadar bahwa aku memang benar – benar mencintainya. Karena aku sakit saat mengetahui dia dekat atau bahkan pacaran sama temannya di SMPK Santo Yusuf atau SMPN 1 Pacet. Sementara aku hanya bisa menyimpan perasaanku tanpa mengungkapkannya selama aku di SMPN 1 Trawas. Hanya berani mengirim surat padanya dengan nama lain “Iswandari Rahayu Putri”.  Dan secara tidak langsung berusaha dekat dengannya saat dia berada di rumahku, mendengarkan nasihat orang tuaku.

Tak pernah sedikitpun aku membuang cinta itu, walaupun aku sudah punya pacar saat kelas 2 SMP😀 ciyeeee…. Sampai akhirnya ada moment kami kembali lagi satu sekolah di SMKN 1 Pungging.  17 Juli 2006, setelah sekian tahun, cinta itu pun dinyatakan untuk yang kedua kalinya, dan kami pun jadian😀 wkwkwkwkwk… Seneng?? PASTI lahhh.. Tapi entah kenapa ada yang beda, tidak sebahagia seperti saat aku memperjuangkannya.  2 minggu berlalu dengan sipu malu dan tidak sedikit percekcokan, kami mengakhiri status “pacaran” menjadi hanya “teman”. Aku tidak menangis sedih sedikitpun waktu itu, ya karena aku  bahagia mengenalnya sebagai cinta pertamaku, memperjuangkannya dengan menjaganya selama bertahun – tahun, dan menyadari bahwa aku lebih nyaman menjadi teman baiknya.

Putus, secara tidak langsung membatasi kedekatannya denganku, apalagi dia sudah langsung dapat penggantiku. Dan setahun setelah nya aku pun menemukan tambatan hatiku yang lain, sampai aku berhasil melupakan Adit untuk sementara waktu. Namun, ketika aku putus dengan tambatan hatiku yang baru (Sosok ke-26 Nico Jauhari Earnest), aku kembali mengingatnya saat kutahu bahwa raganya takkan pernah kembali kulihat. Sedih, takut, menyesal, dan bercampur – campur rasanya. Mengingatnya sewaktu hidup yang jahil tapi cute J, dengan piawai memainkan piano dan bernyanyi untukku, membuatku menangis, memberiku semangat, merubah rona wajahku, bahkan setelah tiada pun masih sempat menjumpaiku (walau kutahu itu bukan dia yang sebenarnya hadir dalam mimpiku, melainkan hanya jin yang menyerupainya).

Rasa itu masih kurasakan sampai detik aku menuliskan cerita ini (3 April 2013). Dan aku yakin, pertemuan dan perpisahan ini bukanlah suatu kebetulan. Ini adalah TAKDIR yang sudah diatur dengan rapi oleh Allah SWT dengan berbagai hikmah dan makna, yang aku tak tahu akhirnya. Yang aku tahu adalah bahwa aku masih mengenangmu dengan kebaikanmu. Kejahilanmu dahulu adalah sesuatu yang bersejarah dan membuatku tersenyum, bukan lagi sakit hati. Senyum bahagia karena dengan itu aku menemukanmu sebagai CINTA PERTAMAKU yang takkan lekang oleh waktu, hanya saja mungkin akan berkurang sekian persen karena aku mungkin telah menemukan CINTA TERAKHIRKU (Sosok ke-27 Rendra Kurniawan).

2nD

Tujphe Rabb Dikhta Hai, Yara Main Kya Karoon? Dengan doaku, kusampaikan cintaku padamu, cinta sebagai SAHABATMU.

Darinya :

Cinta itu takkan pernah lekang oleh waktu, ia takkan bisa dilupakan, hanya bisa dikurangkan atau ditambahkan.

Love is sacrifice – ya, cinta adalah pengorbanan.  Pengorbanan untuk setia menjaga hati untuknya, pengorbanan untuk menyisihkan waktu untuk memikirkannya, pengorbanan untuk menyimpannya dalam hati, pengorbanan untuk siap dalam suka dan duka, serta pengorbanan menghindarkan keinginan untuk mendapatkan yang lebih baik darinya.

8. MBAK ANIS & B.VIVIN (GURU TARI TRADISIONAL-KU)

Masih ingat dengan kompetisi tari yang kuikuti dengan Tria (sosok ke-5) ?? Yak, 2 orang inilah yang sangat berjasa menggali bakatku, Mbak Anis dan Bu Vivin.

Guru tari pertama ku adalah Mbak Anis, beliau lah yang membuatku memiliki cita – cita sebagai penari tradisional. Dengan 2 balon di atas kepala, dibalut dengan kostum sederhana, aku bersama Tria dan beberapa temanku dengan lincah memperagakan tari “Black Dik Doorrr”, entahlah itu tari darimana, aku tidak terpikir menanyakannya dulu, yang kupikirkan bagaimana aku menarikannya dengan lemah gemulai sama seperti penari professional lainnya.😀

Sukses dengan tari pertama, tahun berikutnya pada acara yang sama, 17 Agustus-an, aku kembali naik ke panggung mengisi acara di desa dengan tari Punjari asal Banyuwangi. Sepertinya saat itu dilombakan dan aku menjadi juaranya (tingkat desa siih, hehehe).

Tari lain yang pernah diajarkan adalah Tari remo, Jaipong, dan tari Yapong. Namun, aku berhenti berobsesi menjadi penari tradisional sejak kelas V, yaitu saat aku mempelajari tari modern (modern dance lebih kerennya).

9. HARTINI (GURU TARI MODERN-KU)

Inilah sosok yang merubahku dari yang awalnya adalah penari tradisional yang lemah gemulai menjadi penari modern yang rancak, lincah, dan bersemangat. Lagu pertama yang diajarkan Mbak Hartini adalah “Hello Dangdut” dipopulerkan oleh Saskia dan Geovanny (Haha, masing ingat tidak?). Lagu itu yang membawa aku, Tria, dan 3 temanku lainnya memegang PIAGAM PERTAMA kami sebagai Juara Harapan 2.

–LAGU INDIA dan CITA – CITA–

Gerakan yang rancak, lincah, dan bersemangatku pun dilirik terus oleh Mbak Hartini sehingga dia cara 17 Agustus, aku kembali tampil namun dengan tari modern dengan lagu Remix “JIKA” yang dipopulerkan oleh Melly Goeslaw ft. Ari Lasso. Dan sesaat setelahnya, ada tawaran dari guruku untuk mewakili sekolah lomba tari modern. Mbak Hartini masih setia mengajarkanku dengan berbagai gerakan yang ranjak untuk menjadi juara. Al hasil, dari hasil latihan selama sebulan, aku,Tria, dan Julia (anggota tari lainnya) berhasil memegang PIALA JUARA PERTAMA kami. Waktu itu lagu yang berhasil membawa kami adalah lagu INDIA berjudul KOI MILL GAYA dari film Kuch Kuch Hota Hai. Nah, sejak saat itulah aku sangat menyukai film dan lagu India sampai sekarang (3 April 2013). Karena lagu India adalah sejarah PIALA PERTAMAKU sebagai JUARA PERTAMA tingkat kecamatan Pacet. Dan lagu India inilah yang merubah cita – citaku dari menjadi Penari professional menjadi KOREOGRAFER.

Darinya :

  • Kemenangan itu adalah hasil dari proses kerja keras.
  • Dancing is about soul, when you have good soul, you will show a good dancing too.

10. AHMADI  DAN ALIMAN (USTADZ-KU)

–USTADZ AHMADI–

Sejak SD kelas 1, aku sudah dimasukkan ke Taman Pendidikan Qur’an di desa Cembor. Pertama kali mengaji, aku masih kaku, dan sedikit lambat memahami satu per satu huruf Arab. Barulah saat sampai jilid ke-3, perkembanganku sangat pesat, entah mengapa. Mungkin karena inilah rahmat yang sangat indah dari ALLAH SWT. Dengan akselerasi, aku pun menyusul teman – temanku yang ada pada jilid 5. Berhenti sampai jilid 5, aku sempat cuti mengaji karena tidak ada teman berangkat ke lokasi mengaji yang jauh jaraknya dari rumahku (untuk anak kelas 3 SD itu berbahaya, apalagi ada isu penculikan anak pada jaman itu).

Namun, karena aku sudah sangat senang dan bersemangat mengaji akibat dipuji guru ngajiku dulu, akhirnya aku melawan ketakutanku. Untunglah orang tuaku juga mendukungku. Akhirnya aku sendirian dari dusunku (diantar ibu / ayah ) kembali mengaji di musholla yang jaraknya kira-kira 1 km dari rumahku. Setelah jilid ke-6, aku tidak perlu belajar gharib atau juz amma karena dianggap ustadzah telah mumpuni untuk langsung lanjut Al-Quran sambil belajar tajwid dan gharib. Saat aku diputuskan lanjut ke Al-Quran dan sampai ke juz 2 (kira – kira), ada kebijakan bahwa santri yang sudah sampai Al Quran diharuskan pindah mengaji ke masjid. Yah saat itulah aku bertemu dengan Ustadz Ahmadi.

Kegiatan mengajiku berubah, dari yang dibagi per jilid . per juz, sekarang per kelas. Pencetusnya adalah Ustadz Ahmadi. Ada placement tes nya lhoo, gak kalah sama placement TOELF di ITS😀. Tes nya adalah membaca Al-Quran. Dari kelas 1,2,dan 3, aku ditempatkan di kelas 3, kelas tertinggi yang santrinya semua rata – rata adalah siswa SMP, sementara aku masih SD kelas 6. Dan yang sangat aku suka, di kelas ini aku bisa belajar lebih dari kelas – kelas lainnya, karena materinya lebih bervariasi, ada Tajwid, Tauhid, Fiqih, Akhlaq, dan Qiroah. Sama seperti sekolah, ada jadwalnya masing – masing tiap harinya.

Berikut adalah perubahan kualami dari hidupku setelah aku menimba ilmu dari Ustadz Ahmadi :

  • Mengenal beberapa macam cabang ilmu dalam ISLAM, selain Tajwid.
  • Menemukan sosok ustadz yang sangat kukagumi, baik pribadi dan ilmunya tentang islam
  • Menangis untuk pertama kalinya dalam kasus berpisah dengan guru (saat itu Ust. Ahmadi ke Jepang dan meninggalkan profesinya sebagai ustadz di desaku, sehingga kegiatan mengaji perlahan namun pasti, menghilang)
  • Kepergian ustadz Ahmadi ke Jepang ini adalah awal berakhirnya kegiatan mengaji yang diikuti oleh remaja desaku. Bahkan sampai sekarang, santri tertua di desaku yang masih mengaji di TPQ mungkin adalah siswa SMP kelas 1).
  • Jika sebelumnya aku membaca Al-quran dengan datar tanpa ada irama, namun beliau lah orang pertama yang mengkritik dan membuatku lebih tenang ketika membaca Al-Quran dengan tartil dan irama yang enak kudengarkan sendiri.
  • Fiqih tentang wanita yang dijarkannya, membuatku memutuskan berjilbab saat aku ada di kelas 2 SMP. Tentunya dengan berbagai pertimbangan dan juga dorongan dari guru agamaku di kelas 2 SMP tersebut (sosok ke-19, Musthofa Zaini)
  • Mengerti dan hafal dzikir yang biasa dilakukan jamaah shalat di desaku setelah shalat.
  • Cita – cita sebagai koreografer kukubur dalam – dalam sesaat setelah aku memutuskan berjilbab di sekolah.

Darinya :

  • Dasar semua yang kau lakukan di hidup itu ya Al-Quran dan Al Hadist
  • Remaja mencerminkan desa
  • Man jadda wa jadda, semua yang bekerja keras pasti akan mendapatkan hasil yang diharapkan pula, entah itu nanti ataupun dekat – dekat ini.

–USTADZ ALIMAN–

Lain hal nya dengan ustadz Ahmadi, Ustadz Aliman adalah ustadz yang paling indah bacaan Al-Quran. Indah karena beliau dengan mudah membaca Al-quran secara Qiroah dan suaranya bagus sekali. Waktu masih SD-SMP aku masih malu – malu dengan suaraku sendiri untuk Qiroah, namun ketika SMK dengan kondisi yang terpaksa, aku diminta mewakili kelasku untuk lomba Qiroah. Yah, itulah performance pertamaku sebagai “Qiroati” dan pertama kali sekaligus terakhir kali pula mendapatkan piala + hadiahku sebagai juara pertama Qiroati di SMKN 1 Pungging.

Ketika kita meninggal nanti, maka salah satu bekal yang dibawa adalah ILMU yang BERMANFAAT. Kedua ustadz ku tersebut insyaAllah akan menerima pahalanya yang berlimpah karena ilmu yang diajarkannya padaku insyaAllah masih kuamalkan sampai sekarang J.

2 responses to “40 SOSOK Paling Berpengaruh dalam Hidupku (part 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s