40 SOSOK Paling Berpengaruh dalam Hidupku (part 3)

11.  BU KUS (KEPALA SDN CLAKET 1 PADA JAMANKU)

Kustiatiningsih, semoga aku tak salah menuliskan nama beliau🙂. Yak, beliau adalah kepala SDN Claket 1 yang membuatku menjadi KETUA KELAS UNTUK PERTAMA KALINYA. Belajar menjinakkan suasana kelas yang rame, gaduh, dan penuh pertengkaran siswa kelas 3.

Ketegaran, ketegasan, dan dedikasinya di usia yang tidak lagi dewasa, menginspirasiku untuk senantiasa tegar menghadapi kelas yang kacau dan tetap tenang di kelas mengikuti kegiatan belajar mengajar. Semua prestasi yang kuraih di SD pastinya tidak lepas dari campur tangan beliau, karena aku berangkat atas rekomendasi dan persetujuannya. Beasiswa sekolah pertamaku pun atas inisiatifnya. Beliau pula guru pertama yang berhasil membuatku bisa berbahasa “kromo inggil” dan hafal “Aksara Jawa” sampai sekarang🙂

Terima kasih Bu Kus🙂

12. BU MARMININGSIH (GURU KELAS I-II)

Seperti halnya guru TK, kunci keberhasilan generasi bangsa juga ada pada bagaimana seorang guru SD kelas 1 menggoreskan penanya di kertas putih untuk murid – muridnya. Apalagi bagi murid yang tanpa singgah ke Taman Kanak – Kanak (TK) sudah langsung menduduki bangku SD kelas 1. Dan, goresan pena indah itulah yang diberikan oleh Bu Marminingsih (Bu Marmi) kepadaku, khususnya. Dengan suara khas nya yang serak – serak basah, beliau yang memiliki karakter keras, tegas, dan disiplin, membuatku menjadi pribadi yang begitu pula.

Saat ini aku begitu menyadari begitu sulitnya menjadi guru kelas 1 SD yang sering dianggap “killer” oleh teman – temanku itu. Padahal dengan kekerasan, ketegasan, dan kedisiplinannya, ia sangat telaten membangun pondasi kepribadian bagi generasi penerus bangsa, memberikan akar yang kuat agar kita kuat menghadapi hidup yang penuh cobaan. Padahal dapat kubilang bahwa sifat “killer” nya itu adalah sebuah sandiwara yang memiliki amanat yang sangat indah. J

Darinya : Sifat “killer” seorang guru mungkin adalah sandiwara dengan tujuan mulia dan manfaatnya nyata sepanjang masa.

13. BU LILIK (GURU KELAS VI)

Sebelumnya, saat kuceritakan sosok ke-6 yang berpengaruh dalam hidupku, aku juga menyebutkan guru kelas 6 yang membakar semangatku untuk keluar dari julukan “si licik dan pendiam”. Inilah kata – kata beliau yang sampai kapanpun akan kukenang dan mungkin akan kuajarkan pula ke anak – anakku suatu saat nanti😀

…. “Kamu kalau masih licik, bisa saja kalah dari Dian sewaktu – waktu dan susah menang lomba walaupun kamu lebih pinter”. Itu beliau dikatakan beliau sesaat setelah Dian terpilih menjadi juru bicara tim cerdas cermat….

14. PAK ABDULLAH, S.Pd (GURU BIOLOGI SMP)

Kalau membicarakan beliau, speechless J . Beliau adalah seorang guru Biologi, oh tidak, bukan hanya guru Biologi, tapi juga guru kehidupan. Saat itu dan sampai sekarang aku masih kagum dengan profesionalitas dan pengetahuannya yang sangat luas sebagai guru Biologi yang melek Teknologi Informasi.

–KEKAGUMAN berawal dari PERTANYAAN-PERTANYAAN–

Kadang aku menemui guru yang ketika kutanyakan suatu pertanyaan, namun karena ia belum / tidak tahu jawabannya, malah tetap menjawab seadanya dan bahkan ia sendiri tak tahu kebenaran jawabannya. Itu kuketahui sejak menginjak SMP. Setelah kuketahui hal itu, aku tidak mudah percaya dengan jawaban dari seorang guru, karena ya manusia sekalipun itu guru memiliki keterbatasan ilmu. Mudah saja bagiku, karena saat itu aku begitu hobi membaca buku, maka kubaca materi – materi pelajaran yang sulit yang sekiranya tidak diajarkan di kelas, kemudian beberapa bagian kutanyakan pada guruku, sementara sebenarnya aku sudah tahu jawaban sebenarnya. Nah, jika guruku itu kelihatan bingung dan menjawab dengan jawaban yang tidak sesuai dengan buku tadi atau tidak masuk dalam logikaku, berarti aku tidak boleh percaya sepenuhnya pada beliau.

Namun, pak Abdullah adalah sosok yang berbeda. Aku mengenalnya saat aku ditunjuk sebagai wakil sekolah dalam Olimpiade Biologi. Sama ketika mencoba percaya pada pengetahuan dan jawaban guru lainnya, aku pun juga melakukan uji coba. Ternyata jawabannya tidak seperti yang kukira, PERFECTO!!! Lengkap dengan asal muasal jawabannya. Sejak saat itulah aku sangat mengaguminya. Ketika beliau tidak mengetahui jawaban atas pertanyaanku, selalu bilang “Saya carikan dulu ya Ika, besok saya jawab kalau sudah menemukan jawabannya”. Awalnya aku tidak percaya dengan kesibukannya menghadapi ratusan murid, beliau akan menjawab pertanyaanku keesokan harinya. Namun faktanya, di markas OSIS beliau menghampiriku, kukira akan mengantarkan surat ijin sekolah untuk mengikuti lomba, ternyata untuk menjawab dengan lengkap pertanyaanku yang kulontarkan sehari sebelumnya. Wauuwww, semakin kukagumi saja pribadinya sebagai seorang guru yang amanah dan bertanggung jawab atas ilmu pengetahuannya. Begitulah seterusnya sampai saat itu tiada hari tanpa mengaguminya.🙂

–KARANTINA, LOMBA, DAN BERPISAH DARI ORANG TUA—

Sebenarnya aku ditunjuk untuk lomba Biologi karena aku mungkin adalah satu – satunya siswa di SMPN 1 Trawas yang suka menghafal nama – nama latin binatang dan tumbuhan, serta cepat menghafal materi Biologi diantara teman – temanku para pembenci mata pelajaran ini. Dengan bimbingan pak Abdullah, akhirnya aku bisa menjawab pertanyaan demi pertanyaan seleksi olimpiade Biologi di ITS pada tahun 2005 lalu. Walaupun banyak yang ngelantur, namun kubiarkan saja pensilku menghitamkan setiap bundaran yang ada dengan logika ku yang ada pula. Setiap kali kuhitamkan bundaran itu, kuungkapkan doaku dari hati yang terdalam. Alhasil, seminggu setelahnya, surat dari ITS pun sampai ke tanganku, diantarkan langsung oleh Pak Abdullah, masih di markas OSIS. Wauuww… itulah saat – saat yang membuatku sangat senang, ketika aku berhasil mengikuti LOMBA TINGKAT PROVINSI untuk PERTAMA KALInya. Rasa senang itu semakin bertambah ketika kutahu bahwa 2 temanku Praditya Dian T.A (sosok ke-15) dan Taurusita Kartika Imayanti juga akan bersamaku dalam bidang yang berbeda, masing – masing bidang Fisika dan Matematika. Namun, rasa girang itu seketika berubah menjadi resah karena berikutnya kudengar informasi bahwa untuk maju ke Olimpiade Sains Nasional harus menjalani karantina di ITS selama kurang lebih 2 minggu + rangkaian acara lainnya.

Perpisahan dengan orang tua pun tidak dapat kuhindari, dan pak Abdullah adalah sosok yang membuatku JAUH DARI ORANG TUA untuk PERTAMA KALI lebih dari 3 hari. Sempat menangis di malam pertama menginap di Gedung BPPNFI yang ada di Gebang Putih itu. Menangis karena ingat orang tua dan merasa belum sanggup jauh dari mereka selama seminggu ke depan. Dalam tangisan itu aku begitu tertekan, apalagi juga teringat UAN yang semakin dekat. Di sisi lain aku harus ketinggalan pelajaran di kelas (dan banyak pelajaran tambahan mengahadapi UAN) selama menjalani karantina. Ditambah lagi sikap senior dari ITS (yang bertindak sebagai panitia) agak keras bagiku dan teman – temanku. Pikiran untuk mundur pun semakin bulat. Namun, ketika insiden peperangan dalam pikiran tersebut terjadi, datanglah Pak Abdullah dan kepala sekolahku untuk menenangkanku, memudarkan keinginan untuk mundur. Sampai mereka menghubungi orang tuaku lewat telepon untuk ikut menenangkanku juga. Akhirnya, kujalani 3 hari yang tersisa sambil berdoa dengan khusu’ di Masjid Manarul Ilmi ITS. Dan, tepat hari Minggu aku dipulangkan kembali ke rumahku, tentunya dijemput oleh pak Abdullah dan kepala sekolahku.

Seminggu aku diberi waktu untuk mengerjakan tugas dari para dosen Biologi di ITS. Namun, semangatku mengendur saat mengerjakannya. Yang ada di pikiranku, apakah aku akan melanjutkan karantina selanjutnya dengan mengorbankan persiapan UAN, ataukah mundur namun dengan mengorbankan nama sekolah dan doa kedua orang tuaku yang mendukungku untuk tetap lanjut? Saat aku berada di puncaknya, Pak Abdullah kembali menghampiriku, namun kali ini tidak sendirian, melainkan ditemani sosok yang sangat asing, ternyata orang itu adalah guru biologi dari SMPN 1 Gedeg yang sengaja dikirimkan oleh panitia ITS untuk menjadi pembimbingku selama seminggu ke depan. Beruntunglah bisa menemukan sosok guru yang juga seperti Pak Abdullah, bedanya beliau lebih banyak menerangkan dengan senyum, jauh dari kata super-serius. Tapi itu membuatku nyaman dan berpikiran untuk melanjutkan karantina seminggu berikutnya karena tidak ingin membuatnya kecewa. Sudah jauh – jauh dari Gedeg menuju Trawas hanya untuk aku, namun malah kusia –siakan??!! TIDAKKK!!!

Aku pun berangkat kembali mengikuti karantina dengan Taurusita, sedangkan Angga memilih untuk mundur demi persiapan UAN. Pada karantina kedua yang berjalan seminggu lebih ini, peserta diinapkan di Asrama Haji Surabaya, inilah kedua kalinya aku jauh dari orang tua dengan perasaan bimbang, gelisah, dan penuh pertimbangan. Apalagi di hari pertama masuk kelas karantina, aku harus melihat hasil ujian seleksi tahap pertamaku seminggu yang lalu. Tanpa berharap banyak akupun tanpa rasa percaya diri melirik rangkingku dibandingkan peserta lainnya yang kala itu sangat aktif dan menunjukkan kecerdasannya untuk urusan Biologi.  Dan, sungguh senang bukan kepalang, YAAAKKKKK rangkingku adalah 3 dari sekitar 20 siswa terbaik di Jawa Timur di bidang Biologi. Saat itu aku menghilangkan pikiranku untuk mundur dari kompetisi dan semangat untuk maju ke OSN di Jakarta. Namun, sepertinya Allah terlebih dahulu menjawab doaku yang pertama untuk memberikan kesempatanku mundur. Di hari terakhir, tepatnya saat ujian tahap kedua, surat pun dilayangkan kepadaku dan kepala sekolahku, bahwa aku diminta untuk mundur dari serangkaian seleksi OSN di ITS dengan alasan agar fokus pada UAN. Yah, inilah yang terbaik versi Allah untukku J. Dan tanpa kusadari bahwa momen tersebut adalah momen perjuanganku di bidang Biologi untuk yang pertama dan terakhir kalinya, setelah aku tahu bahwa Biologi adalah mata pelajaran yang paling kukuasai.  Terakhir, karena aku harus melanjutkan pendidikanku ke sekolah menengah kejuruan tanpa ada pelajaran Biologi.

Namun, Pak Abdullah dan Biologi telah membuatku menjadi sarjana. Bagaimana tidak, sebelum menjadi sarjana tentunya aku harus menjadi lulusan SMA/SMK/sederajat, dan untuk menjadi lulusan tersebut, terlebih dahulu aku harus mengikuti proses belajar di SMA/SMK/sederajat. Sebelumnya, tentu aku harus terdaftar di sekolah tersebut. Untuk mendaftar di sana, harus mengikuti seleksi nilai ujian + IPA, kesehatan, dan tes tulis. Biologi menyumbang nilai yang besar karena itu nilaiku yang paling tinggi dibandingkan dengan Fisika. Hampir mendekati 10 berkat seringnya aku mengerjakan soal Biologi level OSN. Dengan nilai itu dan nilai tes lainnya, aku masuk dengan peringkat pertama di deretan daftar siswa baru jurusan Multimedia yang diterima di SMKN 1 Pungging.

Dari pak Abdullah yang kupelajari :

  • Menurutku, guru lebih dari sekedar profesi. Jika menjawab pertanyaan siswa dengan jawaban yang salah, berarti dia bohong, dan kebohongan itu tidak hanya dipertanggungjawabkan kepada siswa, namun juga kepada Maha Pencipta. Jika menjawab pertanyaan siswa dengan benar, bahkan bisa mengarahkan siswa dalam pelajaran kehidupan, maka ia akan membawa bekal untuk akhirat yang tiada terputus selama ilmunya tetap diamalkan. Bahkan dengan distribusi ilmu itu, seorang guru bisa menghancurkan / membangkitkan / memajukan kehidupan dunia.
  • Saat pikiran sedang kacau, ikuti kata hati sembari tanpa henti berdoa pada sang ILLAHI. Trust me, it works if you try it well🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s