40 SOSOK Paling Berpengaruh dalam Hidupku (Part 4)

15.  PRADITYA DIAN TAMI ANGGARA (FIRST BOYFRIEND)

1sT2Praditya Dian Tami Anggara, cowok kelahiran 4 Februari 1991 ini adalah cowok terajin pertama yang kutemui di SMPN 1 Trawas. Mengapa kusebut terajin? Karena baru kali itu aku melihat ada cowok yang mendekap buku pelajaran di tangannya, seakan menjelaskan kalau dia kutu buku🙂. Siapa sangka bahwa si kutu buku itu akhirnya jadi “PACAR PERTAMAKU”.

–PERKENALAN—

Sungguh aku lupa bagaimana persisnya perkenalanku dengannya. Yang kuingat kami tidak pernah berkenalan secara resmi🙂. Aku mengetahui namanya dari teman – teman yang pernah se-SD dengannya. He’s smart, it was all I know about him.

–DARI SURAT PELAJARAN SAMPAI SURAT-SURATAN–

Tahun kedua di SMPN 1 Trawas, aku ditempatkan di sebuah kelas yang dapat dibilang “Kelas Unggulan”. Bagaimana tidak? Hampir seluruh jawara kelas 1 SMP ditempatkan dalam satu kelas. Di situlah (kalau tidak salah) aku mulai bertutur sapa dengan Praditya Dian Tami Anggara atau yang kerap dipanggil dengan nama ANGGA. Bersama dengan Indawati dan Sendika Perdana, kami mulai cerita persahabatan. Yah, masih benar – benar persahabatan, sampai suatu ketika pelajaran Bahasa Indonesia mengharuskan semua siswa di kelas 2B berpasang-pasangan belajar membuat “surat tidak resmi”. Pasangan ditentukan melalui undian berhadiah gemuruh sorak. Dan, pasangan suratku ternyata ANGGA.

Kubuatlah suratku semalaman suntuk, memikirkan kata demi kata yang pas ketika harus dikumpulkan ke Pak Puji (my favourite Indonesian Languange teacher :)). Entah kebetulan ataukah sudah takdir, diantara banyak siswa di kelas, suratku dan surat Angga yang dipilih untuk dibaca di depan kelas. Waaaaaaowww…Entah apa dulu lengkapnya isi suratku sehingga berlanjut ke surat – surat berikutnya di luar pelajaran, hahaha. Yang jelas kata kunci surat yang kuingat adalah “berat”.

IMG_20130410_095132

Dari surat – suratan berlanjut ke sms-an, dan justru inilah awalan yang mengantarkan ke kata “jadian”. Sayang sekali surat yang bertumpuk – tumpuk dan kuabadikan selama 3 tahun lebih lamanya sudah tak kuketahui lagi keberadaannya saat ini, mungkin dibersihkan oleh ibuku J. Untung masih ada 2 buku bersejarah yang masih tersimpan rapi.

Di buku itu kutuliskan bagaimana awal percakapan sms yang keesokan harinya (15 Desember 2004) berlanjut ke adegan “PENEMBAKAN” di depan publik untuk PERTAMA KALINYA.

diary1

–ANEHNYA PACARAN ABG SAAT eSeMPe–

  • Backstreet

Masa SMP bisa jadi adalah masa pubertas dimana seorang anak akan mulai mencari jati dirinya, mencoba hal – hal baru baik yang negatif maupun positif. Di masa – masa ini peran orang tua sangat dibutuhkan. Bagi para orang tua, HATI – HATI, karena siapapun bisa melakukan apa yang saya lakukan dulu, “BACKSTREET”. Untungnya saya menyikapinya ke arah yang positif. Yang saya alami tersebut bahasa kerennya adalah “Cinta Monyet”.  Belum dapat dikatakan sebagai sesuatu yang serius, malah hanya saya anggap suntikan semangat belajar saat itu. Namun, lain orang lain lagi pengalaman.🙂

  • Menyapa saja jarang

Jangan dipikir pacaran pertama yang kualami dulu seperti kebanyakan anak muda jaman sekarang yang banyak nge-date, berduaan, atau hal – hal negatif lainnya. Hehe, jangankan untuk seperti itu, menyapa saja jarang. Ya seperti orang yang baru atau bahkan belum kenal. Ketemuan pun itu untuk memberikan surat😀

  • Surat – suratan, sms-an takut dibaca ortu

Yah, inilah gaya pacaranku yang pertama. Lewat surat J. Bertumpuk – tumpuk surat selama kurang lebih 4 bulan kukumpulkan. Mulai yang membahas tentang cinta, persahabatan, masa depan, dan obrolan tentang Bollywod. Hehe, kami memang sama – sama suka Bollywod, bahkan sampai sekarang🙂.

Karena dijalani dengan backstreet, saat itu aku merasa was – was ketika harus berkomunikasi lewat sms, pasalnya HP masih dikontrol orang tua dan takut sewaktu – waktu kebaca😀

  • Ajaibnya cinta pertama yang masih membayangi pacar pertama

Masa – masa bersama Angga bukan berarti aku melupakan cinta pertama. Dan anehnya, Angga yang harusnya cemburu, malah sangat tertarik dengan kisah cinta pertamaku. Padahal itu adalah salah satu faktor yang akhirnya membuat kami memutuskan untuk bersahabat kembali pada April 2005.

Dan saking ajaibnya cinta pertama itu, bahkan di buku sejarah yang mebgabadikan kisahku dengan Angga, bukan hanya nama kami yang kutuliskan waktu itu, melainkan satu nama lagi😀

diary 2

–KENANGAN YANG MASIH TERSIMPAN—

  • Foto hasil fotocopy-an

diary 3

Kenangan pertama yang masih kusimpan adalah fotonya yang saat itu kuminta. Foto itu adalah fotocopy kartu ujian semester (kalau tidak salah), karena Angga belum punya foto yang bisa diberikannya kepadaku🙂. Kujajarkan fotoku dan fotonya dalam sebuah diary.

  •  Beberapa penggalan diary dimana namanya kutuliskan dalam kalimat – kalimat yang membuatku tersenyum – senyum sendiri saat ini ketika membacanya (seraya berpikir “kok bisa kayak gitu ya dulu?”, hahaha).

diary4

  • Dan dari sinilah aku belajar darinya🙂

diary5

  • Dan boneka “Tami” yang dihadiahkan padaku beberapa lama paska kami putus (image is not avalilable now)

–AKHIR PACARAN JADI AWETNYA PERSAHABATAN—

friend

Yang namanya pacaran mungkin memang ada putusnya, tapi yang namanya persahabatan TIDAK AKAN!!!. Syukurlah itu juga yang kami lakukan. Jika saat pacaran kami sempat seperti orang yang baru kenal dan tidak saling sapa, tidak lepas juga kalau harus bercanda, namun itu semua kini berubah menjadi sebuah persahabatan yang indah. Seindah kedatangannya dalam wisuda ku bulan Maret 2013 kemarin🙂

16. INDAWATI SOEING (SAHABAT TERBAIK PERTAMA)

36306_496847843658671_1357922177_nIndawati “Inda”, cewek kelahiran Desember 1990 ini adalah sosok yang sangat sulit kuceritakan. Bukan karena ia adalah sosok yang abstrak, tapi karena dia adalah sosok yang sangat sangat sangat baik di hadapanku. Gadis cantik, baik, lemah lemut (dulu sih), dan cerdas ini bahkan mungkin jadi dambaan banyak orang, tak terkecuali aku. Dia adalah sahabat dambaan siapapun yang ingin memiliki sahabat ideal.

–PERKENALAN—

Sama dengan perkenalanku dengan Angga, kami juga mengawali kedekatan dengan perkenalan saat dipertemukan di kelas 2B SMPN 1 Trawas. Sebelumnya aku hanya mengagumi nya dari jauh. Dia cantik, pintar, dan disukai banyak orang, itulah yang aku tahu tentangnya. Dan begitu pula adanya saat aku mengenal ia lebih dekat.

–MASA – MASA OSIS yang HANGAT—

Persahabatan itu semakin dekat sejak kami sama – sama mengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) SMPN 1 Trawas, dimana aku sebagai sekretaris dan Mbak Inda (begitu aku memanggilnya) sebagai Bendahara. Suka, duka, saran dan kritik dari pembimbing OSIS kami hadapi bersama.

Juru konsumsi, barangkali juga bisa menjadi gelar untuknya karena setiap kali ada kegiatan OSIS Mbak Inda inilah yang bersedia repot – repot mengurus konsumsi kami para pengurus OSIS yang sedang gotong royong mempersiapkan acara.

Acara yang paling sering kami jalani berdua adalah membuat spanduk manual, hehe. Dengan cara menggunting huruf demi huruf lalu menyusun dan menempelkannya di atas kertas kurang lebih 2×1 meter atau lebih yang kami beberkan di musholla milik sekolah. Kerja keras yang berlanjut hingga larut malam itu biasanya membuahkan senyuman pertanda kepuasan kami bersama. Bahkan tidak jarang berlanjut ke acara tidur di rumahnya. Banyak cerita membuatku semakin merasa bahwa dia lah yang sampai saat ini kusebut sebagai SAHABAT TERBAIK.

Good listener, pengalah, tidak egois, mudah memaafkan dan meminta maaf, ramah, menyejukkan, sabar, dan cantik. Semua sifat itu bahkan belum sepenuhnya mewakili semua sikap yang kukagumi darinya🙂

— MUNGKINKAH PERPISAHAN?–

Dengan berakhirnya masa SMP dan berpisahnya kami di 2 sekolah yang jauh berbeda (baik wilayah dan kurikulum), membuat persahabatan kami menjadi terpisah. Di awal perpisahan mungkin hal itu belumlah terasa, karena pertemuan demi pertemuan untuk menyambung silaturahmi masih sering kami lakukan di Hari Raya Idul Fitri.

Namun, kini apa daya, kesibukan masing – masing membuat aku merasa sangat jauh. Mungkin seolah kutub utara dan selatan (jika dibandingkan dengan kedekatan masa OSIS SMP dulu). Sedih? Iya pastinya, namun pasti ada hikmahnya. J Membuatku mengerti bahwa, yaa, bukan dia yang selalu paling bisa membuatku tenang saat aku dalam kesedihan dan bukan dia juga yang selalu paling bisa membuatku semakin tertawa dalam suka, melainkan ALLAH yang mempertemukanku dengan SAHABAT TERBAIK SEPERTINYA🙂

17. PAK ANDRION (GURU ORGANISASI)

Organisasi pertama yang kuikuti sebenarnya adalah Pramuka di SDN Claket 1. Namun euphoria kepengurusan organisasi sekolah baru pertama kali aku rasakan saat menjadi pengurus OSIS SMPN 1 Trawas. Setelah OSIS, aku juga mulai melirik dan terjun di organisasi PMR di SMPN 1 Trawas. Di sinilah aku mengenal lebih dekat sosok yang biasanya di kelas mengajari bagaimana bermain recorder, menggambar prespektif, dan membaca/menulis not balok. Namun kali ini kukenal beliau sebagai sosok yang tegas dan strategis untuk urusan organisasi.

Namanya adalah Pak Andrion. Aku mulai mengagumi sosoknya ketika pertama kali beliau bersama timnya Outbond Bamama membimbing aku dan teman – temanku dalam acara diklat anggota PMR SMPN 1 Trawas. Konsep diklat yang lain dari LDKS yang pernah kujalani menjadi sisi yang unik dan menarik. Diklat dibuat dengan konsep belajar sambil bermain😀. “BERPIKIR SEBELUM BERTINDAK”, hampir semua permainan selalu bermakna itu. Dan rasanya pesan itu benar – benar sangat berguna sampai sekarang, bukan hanya dalam organisasi, melainkan pada kehidupan sehari – hari. Apalagi sebagai orang yang banyak pertimbangan seperti aku.

Perkenalan itu berlanjut karena beliau adalah pengamat kinerja OSIS SMPN 1 Trawas saat itu (bukan hanya musik atau politik lho yang punya pengamat :D). “BERPIKIR SEBELUM BERTINDAK” masih jadi pesan yang begitu berarti dapat selalu dapt dikembangkan maknanya.

Sosoknya yang tegas dan kritis membuat kami pengurus inti OSIS memutar otak untuk berusaha menyuguhkan kegiatan – kegiatan yang terencana, terlaksana, dan terevaluasi dengan baik. Bagiku pribadi, beliau adalah guru, pengamat, sekaligus pembimbing organisasi. Jika kinerja kami baik, dikatakanlah baik. Namun jika buruk, ya di-goblok2in sampe membuat kami berpikir untuk keluar dari kejahiliyahan itu😀. Yah, itulah keahlian beliau yang sangat menarik “Membuat orang berpikir dan keluar dari jaman jahiliyah”.

Tapi jujur, didikannya yang tegas sampai terasa keras berdampak positif buatku pribadi. Masa Orientasi Sekolah pada jaman aku masuk SMPN 1 Trawas itu masih di bawah bimbingan beliau konsepnya. Tegas, keras, shocking, tapi seru!!! Itulah yang membuatku sudah tidak begitu kaget ketika menjalani MOS di SMKN 1 Pungging dan beberapa diklat organisasi yang dapat dikatakan semi militer. Mungkin yang new thing saat itu adalah kesetaraan gender ketika hukuman berlangsung di lapangan basket, atau adegan masuk kolam ikan di belakang sekolah. Sementara berbagai macam tepuk2an, acara makan “min koman kamin semua kuman jadi vitamin”, games, hampir semua pernah kudapatkan ketika outbond yang dipimpin Pak Andrion. Dan ternyata itu semua bukan kebetulan, kebanyakan seniorku ternyata juga mengenal Pak Andrion sebagai pembimbing diklat mereka sebelum – sebelumnya. Jadi tidak heran jika banyak konsep yang sama. Dari situ, semakin kagum lah aku pada sosok Pak Andrion yang unik dengan makna tersirat namun tidak membuat sesat😀.

Jadi, kata – kata yang menjadi pembelajaran berharga dari beliau adalah “BERPIKIR SEBELUM BERTINDAK”.

18. REKAN OSIS SMPN 1 TRAWAS (KELUARGA KEPENGURUSAN ORGANISASI SEKOLAH PERTAMA)

–PEJUANG – PEJUANG—

osis

Diketuai oleh seorang wanita merupakan hal yang langka bagi kepengurusan OSIS SMPN 1 Trawas. Namun, suatu pengalaman yang sangat berharga ketika itu terjadi di kepengurusanku dan teman – temanku saat itu.

Taurusita Kartika Imayanti “Mbak Tika”, sosok ketua OSIS yang lemah lembut (bagi orang yang baru mengenalnya) tapi sebenarnya tegas dan sensitive (bagi yang sudah mengenalnya). Sungguh orang yang aneh. Tapi keanehan itu membawa sisi tersediri. “Kehangatan dalam suasana kekeluargaan di organisasi”, itulah yang dapat kurasakan.

Heri Pradana “Heri. Wakil ketua OSIS yang paling sering berselisih paham denganku. Sering menghilang saat dibutuhkan, itulah yang membuat kami pengurus inti gemes sekali dengan anak ini. Tapi bagaimanapun gemesinnya Heri, dia selalu berusaha bersikap bijak dan mengalah pada kami para cewek – cewek cerewet (Aku, Mbak Tika, dan Mbak Inda). Dan pribadinya yang sebenarnya kukagumi adalah baktinya pada orang tua. Saat aku marah karena dia menghilang saat dibutuhkan di kepengurusan, sebenarnya aku terharu ketika aku tahu bahwa ia menghilang dengan alasan membantu orang tuanya di rumah, entah itu dalam urusan bantu orang tua bekerja atau sekedar merawat orang tua yang sedang sakit. Dalam hati aku bangga atas baktinya bagi kedua orang tuanya.

Anugrah Yogi P “Yogi”, wakil sekretaris OSIS, yang artinya dia adalah wakilku. Ia lebih parah lagi dari Heri. Sering menghilang tanpa alasan dan besoknya ketika proposal / laporan pertanggungjawaban sudah kuselesaikan, ia menemuiku dengan senyum manisnya dan berkata minta maaf. Tapi ya apa daya, saat itu ya kumaafkan saja, toh proposal / laporan sudah selesai, tiada guna marah tiada henti.

Indawati “Mbak Inda”, si China satu ini berperan ganda😀 Selain sebagai Bendahara OSIS yang sangat rajin menghitung uang untuk anggaran kegiatan, gadis cantik nan cerdas ini juga sangat mensejahterakan perut para pengurus OSIS yang nglembur menyiapkan acara. Bagaimana, untuk urusan ke konsumsi panitia, Mbak Inda selalu jadi yang terdepan. Kemampuan mengatur menu konsumsi sudah tidak diragukan lagi kala itu😀 —  Apapun menunya, Mbak Inda pakarnya!!

Deppy Rangga Maulana “Deppy”, wakil Bendahara OSIS ini juga bisa berperan ganda. Eits, tapi bukan sebagai asisten Mbak Inda untuk urusan konsumsi panitia, melainkan asisten Sekretaris OSIS yang artinya ASISTENKU😀. Kenapa kujadikan asistenku? Karena tulisannya itu lho mirip dan hampir sama dengan tulisanku. Siapapun yang melihat tulisan kami saat itu pastinya susah membedakan. Jadi beruntunglah aku, sering ditinggal wakil sekretaris tapi tetap dibantu asisten sekretaris😀

Praditya Dian Tami Anggara “Angga”,  Sendika Perdana “Sendika”, Heru Prayitno “Heru”, dan Wahyu Eko Nugroho “Epos. Kekeluargaan pengurus inti dilengkapi pula oleh pengurus lainnya yang dedikasinya tidak kalah dengan pengurus inti. Yah, 4 sekawan di ataslah sekuad kami. Lembur buat spanduk, acara hari H, bersih – bersih tempat acara, hujan, panas, terik, mendung, kami jalani bersama. Hmm.. sungguh pengalaman organisasi yang indah bersama mereka.

–SERUNYA ACARA DEMI ACARA—

Langganan menjadi bagian Sie Acara karena selalu didaulat menjadi MC atau menjadi sekretaris acara karena memang profesiku sebagai sekretaris OSIS adalah hal yang membuatku senyum sendiri saat ini. Tapi justru itulah yang berefek sampai sekarang, aku jadi senang public speaking ataupun berkutat dengan dokumen yang tebal hasil ketikanku sendiri.🙂

Pembuatan Spanduk. Apapun acaranya rasanya kurang afdol kalau tanpa spanduk. Meskipun dibuat ala kadarnya, namun sebuah kebanggaan tersendiri ketika hasil kerja lembur kami dapat terpasang mewakili nama dan tema acara. Apalagi proses untuk menuju pemasangan itu disleubungi suasana kekeluargaan, perselisihan, canda, tawa, bahkan tangis ketua OSIS saat ada masalah dengan birokrasi ataupun masalah pribadi. Adegan pengunduran diri karena masalah birokrasi dan masalah keluarga pun sempat meriuhkan pembuatan spanduk acara tersebut.

Acara tanpa rencana jelas yang berhasil. Waktu itu kami sempat membuat inovasi acara yang baru pertama kali diadakan. Aku lupa apakah acara Maulid atau Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Yang jelas rangkaian acaranya adalah jalan santai disambung dengan cerdas cermat tentang sejarah Nabi Muhammad SAW dimana aku sendiri yang menjadi MC. Alhamdulillah mungkin karena tujuannya baik dan diridhoi Allah, acara berjalan lancer walaupun sampai hari H persiapannya mungkin baru selesai 80%. Rasa syukur dan kepuasan lahir batin kami rasakan bersama seluruh panitia yang tidak lain adalah pengurus inti dicampur pengurus lainnya.

Acara rutin pembagian zakat dan daging qurban. Wah ini adalah acara yang kami selenggarakan 2 kali bersama – sama (karena saat itu masa bakti kami ada sedikit perpanjangan). Serunya karena kami bisa sama – sama berkeliling di bawah terik matahari atau derasnya hujan yang tidak sedikitpun menggoyahkan semangat kami, namun malah menghadirkan kehangatan🙂. Perjalanan jauh bahkan selama puasa Ramadhan pun tidak akan begitu terasa. Itulah yang kunamakan hebatnya KEBERSAMAAN.

Dan masih banyak acara seru lainnya yang tidak akan cukup jika diceritakan dengan kata – kata dalam artikel ini.

–PRESTASI, BUAH ORGANISASI (Organisasi vs prestasi)—

Pengalaman yang indah itu yang akhirnya menjadi motivasi tersendiri bagiku untuk merelakan waktuku bergabung dengan organisasi di masa – masa SMK atau kuliah. Oh tapi jangan dikira perjalanan menjadi bagian dari organisasi itu tanpa halangan. Salah satu yang selalu menjadi bahan pertimbangan adalah organisasi vs akademik vs orang tua.

Masa SMP, awal – awal bergabung pastinya masih kacau balau untuk membagi waktu antara OSIS, PMR, dan juga akademik di sekolah. Mulai dari meninggalkan sekolah untuk persiapan acara sampai lembur larut malam bahkan menginap di sekolah (panitia cowok). Hal tersebut otomatis awalnya sangat mengganggu konsentrasiku sebagai siswa yang merasa tertuntut untuk mempertahankan prestasi. Apalagi tempatku adalah di kelas unggulan yang dipenuhi siswa super cerdas dan ulet. Sempat mengalami NILAI MEROSOT? Pastinya. DIMARAHI ORANG TUA? Jelas. Setelah itu pula, aku diminta orang tuaku untuk tidak mengikuti organisasi2an lagi. Tapi karena aku keras kepala, aku tidak mengindahkan permintaan orang tua ku itu, bukan dengan membantah secara kasar, melainkan tetap berorganisasi secara diam – diam sembari berusaha memperbaiki nilai yang merosot. Alhamdulillah, setelah nilaiku normal kembali, barulah aku ada keberanian mengatakan kepada orang tuaku bahwa selama ini aku masih tetap berorganisasi di sekolah dan membuktikan bahwa organisasi dan akademikku bisa berjalan beriringan tanpa ada yang dirugikan salah satu atau keduanya. Malah dari OSIS dimana aku keseringan menjadi MC pada setiap acara yang diadakan itu, aku banyak dikenal oleh guru – guru yang mulai menelusuri kemampuan akademikku juga. Dari situ muncul banyak rekomendasi untukku mengikuti berbagai kompetisi se-tingkat SMP baik skala kabupaten maupun skala nasional. Dapatlah aku meraih banyak prestasi !!🙂

Masa SMK, lepas dari nilai yang merosot, kali ini masalah berganti menjadi kesehatan vs organisasi. Diklat yang hampir tiap minggu ada karena 2 organisasi “berdiklat” yang kuikuti sempat membuat badanku drop. Bukan saat diklat berlangsung, melainkan paska diklat. Akupun karena sibuk beroganisasi, sering mengabaikan pola makan. Ditambah dengan praktek kerja industri yang mengalihkan pikiranku untuk urusan makan, menjadikan badanku semakin drop. Sempat istirahat selama sebulan penuh di rumah, membuat orang tuaku kembali melarang keras aku untuk terus berorganisasi. Tapi ya dasarnya aku adalah anak yang keras kepala dan terkadung jatuh cinta dengan organisasi, kembali larangan itu tidak kuindahkan. Aku masih sering pulang malam dan ditegur ibu/bapak kos setelah rapat/diklat organisasi. Sama seperti saat SMP, aku sengaja merahasiakan rutinitas organisasi yang masih kujalani sembari memperbaiki pola hidup sehatku. Lama kelamaan orang tuaku pun mengerti. Apalagi, sama ketika di SMP, organisasi yang membuatku selalu ingin muncul sebagai emas di tengah perak dalam setiap kesempatan yang ada, ternyata kembali membuatku berprestasi. Juara 3 Toyota Eco Youth se-Bumi Jawa Bali tahun 2007 lalu bagiku adalah prestasi paling prestisius yang kudapatkan selama aku menempuh pendidikan di SMKN 1 Pungging. Itupun karena awalnya aku aktif di organisasi dan terdorong untuk berinovasi.🙂

Masa Kuliah, kalau selama kuliah, mungkin karena orang tuaku sudah percaya padaku untuk mengatur kuliah vs organisasi, jadi hampir tidak pernah ada protes dari mereka atas keikutsertaanku dalam berbagai organisasi. Dan sekali lagi dapat kubuktikan bahwa organisasi bukanlah penghalang untuk kita menjalankan akademik. Malah lebih dari itu, organisasi membuat kita bisa mendapatkan pengalaman berharga, bertemu / berkenalan dengan orang – orang hebat, dan ikut berprestasi bersama mereka. Itulah yang kualami. Medali Emas PIMNAS kategori PKMM yang kuraih dengan penuh perjuangan dengan tim Wayang Card-ku adalah buah dari keaktifanku di organisasi. Bagaimana bisa? Yap, pentolan tim Wayang Card mengenalku sejak aku aktif di departemen Ristek Himpunan Mahasiswa Sistem Informasi (Ristek HMSI). Ia pun mengajakku untuk bergabung bersamanya sampai akhirnya medali beserta senyuman bangga bisa kami dapatkan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta 2012 lalu. Keberhasilan itu akhirnya menyulut semangatku untuk berkarya kembali sampai akhirnya berhasil mengawinkan 2 medali prestisius, yaitu medali emas PIMNAS dengan medali emas GEMASTIK V ITB di tahun yang sama. Dan jika boleh sedikit promosi, meskipun banyak orang mengatakan IPK tidak penting, bagiku itu tetap penting sebagai pencapaian pribadi yang tujuannya hanya semata – mata membuat orang tua bangga. IPK ku justru melambung tinggi dengan sempurna (4.00)  selama 2 kali berturut – turut ketika aku di puncak kesibukan berorganisasi lhoo🙂

DSC00373416775_4694566202906_1953521851_n

  • Kunci yang tersirat dalam setiap keberhasilanku memadupadankan akademik dan organisasi (selain time management) adalah keuletan. Keuletan bisa muncul karena ada motivasi. Motivasi membuahkan hasil karena aksi. Dan aksi tidak akan berhenti selama ada evaluasi untuk menjadi lebih baik. Luruskan niat untuk bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain melalui akademik dan organisasi, berusaha menjadi yang terbaik yang kita bisa untuk mencapai target masing – masing, bertawakkal dan mensyukuri apapun hasilnya, seraya mengevaluasi setiap proses dan hasil secara berkesinambungan.
  •  Beda orang, beda pengalaman, beda pula kemampuan. Ini sekedar sharing yang pernah kualami dan kusikapi dalam kaitannya organisasi vs akademik vs orang tua.

Dan berikut ini riwayat organisasiku mulai dari awal sekolah sampai akhir kuliah🙂 Mungkin tidak seberapa untuk kebanyakan aktifis organisasi lainnya yang lebih luar biasa dari saya.

organisasi

7 responses to “40 SOSOK Paling Berpengaruh dalam Hidupku (Part 4)

  1. ingat : cinta bukan hanya di mata, tapi juga di dalam jiwa. Berusahalah untuk bermanfaat dan berpikir positif untuk diri sendiri dan orang lain. salam Dargobess

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s